setelah ane browsing akhirnya dapet juga nih.. Berikut Makna Tembang Lir Ilir (Emha Ainun Najib) Selamat menikmati....
Lir-ilir,lir- ilir tandure wis sumilir
Lir ilir lir ilir tanamannya sudah tumbuh/mekar
Tak ijo
royo-royo dak sengguh penganten anyar
Tumbuhnya menghijau, (terlihat) seperti pengantin baru
Tumbuhnya menghijau, (terlihat) seperti pengantin baru
Cah
angon, cah angon penekno blimbing kuwi
Anak gembala, (tolong) panjatlah pohon belimbing itu
Anak gembala, (tolong) panjatlah pohon belimbing itu
Lunyu-lunyu
penekno kanggo masuh dodotiro
Walaupun (pohonnnya) licin panjatlah untuk membilas
dodot-mu (sarung/pakaian)
Walaupun (pohonnnya) licin panjatlah untuk membilas
dodot-mu (sarung/pakaian)
Dodotiro-dodotiro
kumitir bedhah ing pinggir
Pakaianmu sobek di pinggirnya
Pakaianmu sobek di pinggirnya
Domono
jlumatana kanggo seba mengko sore
Jahitlah, untuk pertemuan nanti sore (sholat)
Jahitlah, untuk pertemuan nanti sore (sholat)
Mumpung
jembar kalangane
Selagi masih luas waktu/tempatnya
Selagi masih luas waktu/tempatnya
Mumpung
padhang rembulane
Selagi masih terang bulannya
Selagi masih terang bulannya
Yo
surako.....surak..... oreeee......
Bersoraklah dengan gembira...
Bersoraklah dengan gembira...
Ini arti yg
lebih jelasnya :
Ilir-ilir,
ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar
Bait di
atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi di sawah yang
menghijau, dihiasi oleh tiupanangin yang menggoyangkannya dengan lembut.
Tingkat ke-muda-an itu bisa disamakan juga dengan pengantin baru. Jadi ini
adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk
bekerja & berkarya.
Bocah
angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro
Buah
belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima rukun Islam; dan
sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita.
Ini harus kita upayakan betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya
hambatan yang kita hadapi.
Anak
gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam
tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul
seketika bila orang Jawa menyebut 'bocah angon'. Namun pengertiannya dapat pula
ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat,
ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan dari ketua RT sampai pimpinan
negara.
Dodot-iro,
dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore
Pakaianmu
berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah dan rapikan agar
pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti sore. "Sebo"
adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan 'sowan' atau menghadap raja
atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.
Makna
pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap
Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian
kita.
Mumpung
padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
mumpung jembar kalangane
Manfaatkan
terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan
keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit
bagi kita.
Menurut
kasetnya Emha Ainun Najib kurang lebih sbb :
Negeri
yang amat kaya raya namun dipimpin dengan buruk..... Bocah angon (penggembala
kebangsaan, pemimpin nasional, bukan pemuka kelompok atau tokoh
golongan) yang harus memanjat pohon selicin apapun untuk memperoleh blimbing yang bergigir lima.....Sari blimbing ini dipakai untuk mencuci pakaian nasional
yang robek-robek (krisis moral yang melahirkan krisis politik).... .Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane..sepanjan g masih sangat mungkin krisis ini
diatasi...
Tafsir Cak Nun ini merupakan tafsir kontemporer yang disesuaikan dengan kondisi sekarang, dan dialamatkan kepada para pemimpin bangsa atas kerusakan moral yang erjadi pada bangsa kita ini.
golongan) yang harus memanjat pohon selicin apapun untuk memperoleh blimbing yang bergigir lima.....Sari blimbing ini dipakai untuk mencuci pakaian nasional
yang robek-robek (krisis moral yang melahirkan krisis politik).... .Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane..sepanjan g masih sangat mungkin krisis ini
diatasi...
Tafsir Cak Nun ini merupakan tafsir kontemporer yang disesuaikan dengan kondisi sekarang, dan dialamatkan kepada para pemimpin bangsa atas kerusakan moral yang erjadi pada bangsa kita ini.
Kelak, kita boleh
saja menafsirkannya ke dalam situasi baru yang muncul kemudian.
(Dari ~Vie, kks_melati@yahoogroups.com , Dari Milist Forum Lingkar Pena)



0 komentar:
Poskan Komentar
bagi pembaca yang ingin berkomentar silahkan, asalkan jangan komentar yang mencela. Terimakasih :)